Rabu, 22 Juni 2011

Lagi-lagi Dunia Maya

Bismillahirrahmanirrahim...
Saya awali catatan ini dengan Basmalah, semoga tulisan ini jauh dari duri-duri fitnah yang menjerumuskan. Bila belum lurus niat hamba ini, luruskanlah Ya Rabb. Mohon maaf bila dalam tulisan ini banyak kalimat yang kurang ahsan atau kurang berkenan. Atau mungkin salah.

Saya awali tulisan ini dengan pertanyaan yang mungkin, dan lagi-lagi akan membahas sebuah topik yang sebenarnya sudah biasa diangkat, atau mungkin basi untuk dibicarakan kembali. Tapi kemudian, ada perasaan dalam hati saya yang mendesak saya untuk kembali bertanya. maka saya pilih pertanyaan itu saya rangkum di sini. Bila di tanya kenapa? karena topik yang akan saya angkat tidak akan jauh-jauh dari dunia maya, yang akhir-akhir ini marak untuk dikunjungi, atau sedang asyik-asyiknya digandrungi.

Saya hanya mengajukan 2 pertanyaan. Pertanyaan pertama adalah "Dimanakah batas bercanda dan komunikasi antara ikhwan dan akhwat di dunia maya?". dan pertanyaan kedua adalah " Adakah perbedaan pergaulan antara ikhwan-akhwat di dunia maya dengan dunia nyata." 2 pertanyaan inilah yang jujur membuat saya terdiam cukup lama, karena sejujurnya pertanyaan itu dilontarkan adik tercinta saya yang baru saja membuka akunnya, dan tanpa sengaja membaca beberapa status yang terpampang di berandanya, yang kemudian melihat fenomena aktivis dunia maya yang sedemikian rupa, yang kemudian berakhir dengan sebuah kalimat "Apalah fungsinya menjadi aktivis dakwah di dunia nyata, begitu rapi menjaga hijabnya, tapi di dunia maya seperti liar seperti bukan siapa-siapa". jangan disalah artikan dengan ucapan tersebut, dan terus terang kalimat itu menyayat hati saya. Dan benarkah begitu rupanya??? semoga saja ungkapan itu salah. Semoga

Saya tidak perlu berkata panjang lebar di sini. Karena inti dari tulisan ini adalah 2 pertanyaan di atas. Hanya pertanyaan di atas, yang terus terang masih saya cari jawabannya. Bilapun kemudian kawan-kawan bisa menguraikannya dan berkenan untuk berbagi ilmu dengan saya. dengan senang hati saya yang masih perlu belajar banyak dengan teman-teman semuanya.

Senin, 06 Juni 2011

Aku Iri Pada Kalian!!!

Malam yang cukup dingin, ditemani dengan iringan nasyid yang sengaja kuputar pelan. Karena memang sudah sangat malam, takut mengganggu orang. Malam ini, setelah sore tadi meskipun terlambat atau bahkan terlambat sekali, setidaknya membersamai orang-orang sholeh-ah, menentramkan hati yang rupa-rupanya masih sangat keras sekali.
                Kawan, tahukah engkau? Aku sangat iri pada kalian, sungguh sangat iri.
Suatu hari, aku pernah mengintip catatan-catatan kalian, begitu banyak komentar yang tersampaikan. Dan aku tahu pasti, komentar-komentar yang kalian katakan bukan sembarang komentar. Selalu ada yang seru untuk diperbincangkan. Selalu ada nasehat yang tersampaikan. Selalu ada pesan yang ditinggalkan. Akupun pernah membaca beberapa status di akun facebookmu. Subhanallah, sungguh aku iri padamu. Bagaimana tidak, selalu ada ilmu yang tertuang di situ. Selalu ada diskusi seru. Dan aku hanya melihat dari balik layar. Aku begitu takut untuk sekedar meninggalkan jejak di sana, karena aku begitu malu, aku begitu iri dengan kalian.
                Kawan, tahukah engkau? Aku sangat iri pada kalian, sungguh sangat iri.
Kupikir semua juga bisa melakukan itu. Andaikan aku boleh berkata jujur. Kawan, aku iri pada semangat dakwah kampus. Bagaimana mungkin tidak? Kuantitas kalian sungguh jauh berbeda dengan kami di sini. Jauh berbeda. Salahkan aku iri? Kalian begitu sibuk menyiapkan berbagai macam agenda. Dengan satu tujuan, bersama-sama.
`               Kawan, tahukah engkau? Aku sangat iri pada kalian, sungguh sangat iri.
Kalian sukses menggelar perhelatan akbar, mengundang pemateri handal tingkat nasional. Kalian begitu bersemangat. Dan aku menduga, keuntungan kalian pastilah sangat besar. Ya, aku sangat paham, tidaklah mungkin keuntungan itu sekedar materi. Pasti lebih dari itu?? Iyakan? Aku yakin itu.
                Tapi aku tidak mau berhenti pada satu titik keirian itu
Kau tahu kawan, biarpun kuantitas kami jauh berbeda dengan kalian. Tapi kami akan berusaha berjuang melebihi kuantitas kami dalam medan perjuangan. Semangat kami melebihi jumlah yang terbilang. Kami akan tetap rapatkan barisan dalam perjuangan, meskipun badai menerjang. Karena bagi kami hanya ada satu tujuan.
Meski kami harus memulai secara perlahan, tapi kami yakin suatu saat nanti kami akan berhasil menyuguhkan karya kami yang luar biasa. Mencetak generasi-generasi tangguh, GENERASI RABBANI, GENERASI QUR'ANI, menjadi KAMPUS MADANI
Kami akan meniti tangga demi tangga, satu persatu. Berbekal kesabaran, keikhlasan, dengan keistiqomahan, kami akan melalui tahapan-tahapan perjuangan.
Kami yakin... hari itu akan segera tiba, hadirnya generasi-generasi Qur’ani, yang akan menegakkan kalimatullah di bumi jihad tercinta ini. Ya, mungkin bukan sekarang, mungkin sebentar lagi, ya... sebentar lagi. Tak akan lama lagi.
Kami yakin itu, Mimpi-mimpi itu, akan segera menjadi PASTI....
                Menyambut momentum yang akan segera tergelar. Saatnya berfastabikhul khoirot mencetak generasi-generasi tangguh estafet dakwah. Mengutip sebuah kalimat “Antum boleh berbangga diri dengan kejayaan dalam memenangkan beberapa lembaga, merebut opini publik, mewarnai berbagai pergerakan, menyelenggarakan banyak seminar, sukses dalam tiap dauroh atau bahkan merekrut banyak simpatisan, TAPI.....Apalah artinya apabila kita meninggalkan kampus, tiada yang mampu melakukannya sebaik antum? Hingga dakwah di kampus ini menemui stagnasi bahkan punah ditelan zaman.”

Keep Speeriiitttt and istiqomah!!!
nahnu du’at qobla kulli syai’in….!!!

Malang,
6 Juni 2011

Jika Komitmenmu Benar-Benar Tulus…

“Dan antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah ; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-menunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah janjinya.” [Al-Ahzab 33:23]
1. Jika komitmen terhadap dakwah benar-benar tulus…, maka tidak akan banyak aktivis dakwah yang berguguran di tengah jalan. Dakwah akan terus melaju dengan mulus untuk meraih tujuan-tujuannya dan mampu memancangkan prinsip-prinsipnya dengan kokoh.
2. Jika komitmen terhadap dakwah benar-benar tulus…, niscaya hati sekian banyak orang akan menjadi bersih, pikiran mereka akan bersatu, dan fenomena ingin menang sendiri saat berbeda pendapat, akan jarang terjadi.
3. Jika komitmen aktivis dakwah benar-benar tulus…, maka sikap toleran akan semarak, rasa saling mencintai akan merebak, hubungan persaudaraan semakin kuat, dan barisan para aktivis dakwah akan menjadi bangunan yang berdiri kokoh dan saling menopang.
4. Jika komitmen aktivis dakwah dakwah benar-benar tulus…, maka dia tidak akan peduli saat ditempatkan di barisan depan atau di barisan belakang. Komitmennya tidak akan berubah ketika ia diangkat menjadi pemimpin yang berwenang mengeluarkan keputusan dan ditaati atau hanya sebagai jundi yang tidak dikenal atau dihormati.
5. Jika komitmennya benar-benar tulus…, maka hati seorang aktivis dakwah akan tetap lapang untuk memaafkan setiap kesalahan saudara-saudara seperjuangannya, sehingga tidak tersisa tempat sekecil apa pun untuk permusuhan dan dendam.
6. Jika komitmen terhadap dakwah benar-benar tulus…, maka sikap toleran dan saling memaafkan akan terus berkembang, sehingga tidak ada momentum yang menyulut kebencian, menaruh dendam, dan amarah. Namun sebaliknya, semboyan yang diusung adalah ”Saya sadar bahwa saya sering melakukan kesalahan, dan saya yakin Anda akan selalu memaafkan saya.”
7. Jika komitmen aktivis dakwah benar-benar tulus…, maka semua orang akan sangat menghargai waktu. Bagi setiap aktivis dakwah, tidak ada waktu yang terbuang sia-sia karena dia akan selalu menggunakannya untuk beribadah kepada Allah di sudut mihrab, atau berjuang melaksanakan dakwah dengan menyeru kepada kebaikan yang mencegah kemungkaran. Atau, menjadi murabbi yang gigih mendidik dan mengajari anak serta isterinya di rumah. Aktivis dakwah yang aktif di masjid untuk menyampaikan nasihat dan membimbing masyarakat.
8. Jika komitmennya benar-benar tulus…, maka setiap aktivis dakwah akan segera menunaikan kewajiban keuangannya untuk dakwah tanpa merasa ragu atau bimbang. Di dalam benaknya, tidak ada lagi arti keuntungan pribadi dan menang sendiri.
9. Jika komitmen aktivis dakwah benar-benar tulus…, maka akan muncul fenomena pengorbanan yang nyata. Tidak ada kata ”ya” untuk dorongan nafsu atau segala sesuatu yang seiring dengan nafsu untuk berbuat maksiat. Kata yang ada adalah kata ”ya untuk segala perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah.
10. Jika komitmen para aktivis dakwah benar-benar tulus…, maka setiap orang yang kurang teguh komitmennya akan menangis, sementara yang bersungguh-sungguh ingin berbuat lebih banyak dan berharap mendapat balasan serta pahala dari Allah. []
posted by : karim
Sumber : Kitab ”Komitmen Da’i Sejati”, Muhammad Abduh