Kamis, 25 April 2013

Muhasabah KEMATIAN



Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185) 


Begitulah yang tertera dalam kitabullah. Ya, tiap-tiap jiwa akan menghadapi kematian. Sungguh tak ada satupun jiwa yang mampu menghindar darinya. Pagi ini ada kabar yang tidak terduga. Seorang ustadz muda, dikabarkan meninggal dunia dini hari karena kecelakaan. Innalillahi wa inna ilaihi roji’iun. Ya Rabb, Engkau ambil lagi mereka yang berilmu satu persatu dari muka bumi. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu. Semoga ALLAH menempatkanmu ustadz disebaik-baik tempat di sisiNya.. aamiin Allahumma aamiin.

Siapa yang menyangka kematian akan datang diusia muda, siapa yang menyangka kematian akan datang tiba-tiba. Siapa pula yang mampu menjamin kematian akan datang di usia senja? “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An Nisa’: 78 )

Sungguhlah benar, jika kematian adalah sebaik-baik nasehat agar kita selalu mengingat, dan sadar untuk selalu dalam koridor di jalanNya. Berbahagialah mereka yang senantiasa menghisab dirinya sebelum datangnya hisab yang sesungguhnya nanti di yaumul hisab.

Kawan, tak tersentuhkah hati kita pada tiap-tiap kejadian kematian? Akankah hati kita masih sangat begitu keras, sehingga nasihat terbaik ini pun tak mampu menggetarkan ruh kita untuk segera bangkit, menyeru pada kebaikan, bergegas untuk memperbaiki diri, beramal sholeh tanpa harus menunggu nanti-nanti saja, bila sudah siap hati? Siapa yang menjamin bahwa hidup kita akan bertahan sampai 1 menit ke depan?

Bila waktu telah berakhir, tak ada lagi waktu untuk memperbaiki diri. Ketika seorang manusia melalaikan nilai waktu pada hakekatnya ia sedang menggiring dirinya kepada jurang kebinasaan. Tak ada satu detik pun waktu terlewat melainkan ajal kian mendekat. Allah swt pun telah mengingatkan kita dalam surah Al-Anbiya ayat 1, “Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).”

Apa yang akan kita bawa sedang amal kebaikan rasanya tak mencukupi. Terlalu banyak keburukan yang telah diperbuat diri, sehingga hati keras saat dinasehati. Jika seorang ulama, orang alim, akan begitu banyak yang mengantarkannya menuju peristirahatan terakhir, akan banyak doa-doa tulus yang terlantunkan untuknya. Sedangkan kita? Siapakah kita? Akankah ada yang mengantarkan kita kelak ke tempat peristirahatan terakhir kita? Sedang amal-amal kebaikan pun rasanya begitu-begitu saja, masih terlampau kalah dengan kemaksiatan yang dianggap biasa.

Ya Rabb,,, jadikanlah akhir usia kami adalah Khusnul Khatimah
Jadikan usia yang tersisa hanya mengharap ridhoMu
Jadikan usia yang ada untuk beribadah kepadaMu
Jangan Jadikan kami lebih cinta pada duniaMu
Sehingga kami melenakan akhiratMu

0 komentar:

Posting Komentar