ini hanya satu diantara berbagai cerita. Panggilah dia fulanah, muslimah yang kebetulan yang sudah pernah kenal sebelumnya, hanya saja sekarang sudah jarang berjumpa. kebetulan fulanan sedang sibuk mengerjakan skripsinya. singkat cerita, dada masalah dengan skripsinya, ya... masalahnya pada instrumen yang digunakan. entahlah detailnya seperti apa, karena instrumennya inilah yang menyebabkan pembimbingnya belum menyetujui untuk segera sidang, sedangkan yudisium sudah melambai-lambai di depan mata.
Bagi mereka yg dikejar dengan skripsi akan memunculkan pertanyaan pada diri sendiri "Nutut Nggak?". iya, cukup tidak waktunya untuk mengejar kelulusan dengan waktu yang telah ditentukan. berhari-hari dengan keyakinan, dan meskipun masih ada rasa kemustahilan, si fulanah berangkat ke kampus dengan harapan besar "ACC". saya pikir siapa yang tdk mengharapkan segera disetujui untuk segera menyelesaikan sidang ini. berbekal doa yang terus dipanjatkan, harapan kelulusan didepan mata yang tidak pernah padam, semangat yang masih berkobar meskipun terkadang akan padam karena ikhtiar tak kunjung membuahkan hasil yang diimpikan.
"Ngemper" mengutip bahasa kawan-kawan di kampus dulu, begitulah kiranya, menunggu dosen yang tak kunjung menerimanya dari pagi sampai sore hari menjelang maghrib tiba terkadang dengan rasa lapar yang tak terkira. esoknya lagi pun tetap dicoba, mencari sang pembimbing yang dicinta, terkadang revisipun bejibun jumlahnya, tak jarang malaspun menghinggapinya. Tapii... tidak, dia tak pernah mau menyisakan malas, apalagi tak mau menyapa skripsinya. Ada janji pada orang tuanya yang harus tertunaikan, begitu pula janjinya pada Allah yang telah memilihkan jurusan ini kepadanya hingga dia bisa berdiri hampir dipenghujungnya.
Dan kini hampir selangkah lagi, setelah penelitian dilakukan, instumennya bermasalah. kenapa tidak kemarin saat mengajukan proposal saja, ah entahlah saya tdk begitu tahu apa sebabnya. dalam sujud2 panjangnya, doa yg tak pernah luput dari lafadznya, tetap saja maju, melaju... mencari titik terang yang seolah hampir mustahil karena yudisium tinggal beberapa hari lagi. dan hingga suatu hari setelah penantian panjangnya, sang pembimbing yang dicintapun mengeluarkan kata sakti itu, menyetujui untuk sidang keesokan harinya. ah entahlah, inilah sekenario Allah yang luar biasa. sungguhlah benar bila Allah mengulangnya dalam Al Quran
"Inna ma'al 'usry yusro" (Al Insyiroh: 6).
BERSAMA KESULITAN ADA KEMUDAHAN.

Tidak ada peperangan yang berakhir dengan kemenangan dengan menunggu datang dari langit bak kejatuhan durian. Al Fatih tak hanya menunggu untuk membebaskan Konstantinopelnya, Shalahudin Al Ayubi tak hanya duduk-duduk santai membebaskan Palestina. Jika semua orang tidak membayar harga untuk meraih kemenangan, mereka akan membayarnya dengan kekalahan.
Dan kalian yang mengaku pemuda masa depan bangsa, kesuksesanmu tak akan datang tiba-tiba jika hidupmu hanya bersantai-santai ria. bergegaslah, meskipun sulit melaluinya, meskipun harus berjalan dalam terjalnya bebatuan, diiringi jurang-jurang curam, seakan kemudahan atau keberhasilan adalah suatu kemustahilan. tetaplah berjalan, tetaplah tatap masa depan. jangan hentikan ikhtiar, apalagi doa senjata kaum beriman. karena sungguh tiap-tiap keberhasilan itu tak pernah mudah, karena sungguh
tiap-tiap KEMENANGAN itu ada HARGA yang HARUS DIBAYAR.
*) sekaligus teguran untuk diri sendiri
Blitar, Penghujung Agustus 2013
Pejuang Syahidah



.jpg)
