Rabu, 13 April 2011

Karna Kita Tak Bisa Berjalan Sendiri

Siapapun takkan pernah bisa bertahan…
Melalui jalan dakwah ini…Mengarungi jalan perjuangan…Kecuali dengan kesabaran…

Saat kita memutuskan keluar dari barisan ini, maka pertanyakanlah kembali pada diri kita sendiri. Seberapa kuatkah kekuatan kita saat harus berjuang seorang diri?? Sedangkan berjama’ah saja, kita kerap kali menemukan kekurangan di sana sini. Sedangkan berjama’ah saja, kadang kita pesimis akan harapan. Kadang berjama’ah saja, kita sering mengeluh dan menyerah. Lalu, bagaimana jika kita berjuang seorang diri?? Sekali lagi tanyakanlah pada diri sendiri. Seberapa kuatkah kekuatan kita saat harus berjuang seorang diri??!!!

Ibarat sapu lidi. Jika hanya satu buah, seberapa kuat dan seberapa efektifkah, sebatang sapu lidi itu membersihkan sampah yang berserakan di jalan? Di awal-awal mungkin ada rasa semangat yang menggebu dan keyakinan yang kuat akan mampu membersihkan semua sampah-sampah itu dengan sebatang lidi. Namun kemudian yang terjadi adalah kelelahan yang semakin lelah, ke pesimisan akan mampu membersihkan sampah yang berserakan, bukan menjadi bersih sampah berserakan, yang terjadi malah patah lidi menjadi dua atau mungkin patah menjadi beberapa bagian. Namun ketika lidi itu digabungkan dengan lidi-lidi lain dalam satu ikatan yang kokoh, maka yang terjadi adalah kekuatan yang luar biasa besar membersihkan sampah yang berserakan. Ia pun menjadi sulit untuk dipatahkan.

Begitulah amal jama’i. Kita bukan supermen…!! apalagi pahlawan bertopeng! Yang semua kebathilan dimuka bumi ini bisa kita tangani dengan sekejap dan seorang diri. kita bagian dari sebuah tubuh yang saling menguatkan. Yang satu sama lain punya fungsi, punya kelebihan dan kekurangan. Dengan potensi-potensi itulah kemudian disatukan menjadi sebuah kekuatan yang luar biasa.

Ikhwahfillah…Mari sejenak kita perhatikan pola kerja anggota tubuh kita. Masing-masing anggota tubuh punya peran untuk mensinergikan gerak tubuh yang harmonis, menunjukan koordinasi yang sempurna, menunjukan kesempurnaan amal yang prima, menunjukan konsistensi dan keistiqomahan dalam menjalankan amanahnya masing-masing. Jika telinga terasa gatel, mulut tidak perlu ngoceh memerintahkan tangan untuk menggaruk. Masing-masing sadar akan tugasnya. Tangan yang sadar akan tugasnya langsung menggaruk telinga yang terasa gatel. Itulah amal jama’I. semuanya berjalan sinergi dan faham akan tugasnya masing-masing. Tidak ada yang merasa paling hebat ataupun merasa paling lemah.

Amal jama’I atau team work menjadi hal yang sangat penting dalam menyukseskan segala program dakwah yang kita gulirkan. Tidak ada satu individu yang lebih dari individu yang lain. Semuanya memiliki peran penting yang tak bisa disepelekan. Sekecil apapun peran itu. Yang menjadi ketua sebuah agenda dakwah tak perlu sombong dengan merasa paling hebat dibanding ikhwah yang lain. Yang mendapat peran sederhana, tak perlu merendah merasa paling lemah diantara yang lain. Semua peran memiliki manfaat yang sangat penting, satu sama lain saling berhubungan dan membutuhkan. Apapun posisi dan peran kita dalam sebuah jama’ah atau organisasi hal yang paling utama adalah memaksimalkan dan menyempurnakan amal-amal atau peran-peran kita dihadapan-Nya.

Karna Dakwah kita bukan karna ta'limat qiyadah, perintah murobbi/murobbiyah, bukan pula karna si fulan atau fulanah. Karna tiada lain dan tiada bukan dakwah kita hanya Lillahita'ala.

0 komentar:

Posting Komentar