Senin, 03 Oktober 2011

Luapan Hati Semata

Untuk setiap cinta yang tak terbalas dengan cinta
Untuk setiap kasih sayang yang terbalas dengan kebencian
Untuk setiap perhatian yang terbalas dengan ketidak pedulian
Untuk setiap senyuman yang terbalas dengan luka yang tersayat

Sungguh bilapun hati ini begitu rapuh
Kerasnya ucapan, atau pedasnya rangkaian kata
Mampu menyayat hati, membekas hingga relung hati
Jauhkan hamba dari prasangka buruk,
dari perasaan dendam, apalagi kebencian
semaikan hati yang lemah lembut, dan penuh kesabaran
Jadikan ketegaran membersamaiku
menjadikan ketangguhan menemaniku
Rabb.... sungguh hanya Engkau yang mengetahui hambaMu ini
Engkaulah yang menjadi pengharapan dan bukan manusia yang masih membutuhkanMu
Jadikan aku kokoh dan kuat mengarungi samudera ujian
Ijinkan iman selalu bersemayam dalam hatiku
Aamiin

Apa Jadinya Kalo Ikhwah Kecanduan?

Emang ada ya ikhwah kecanduan?? Eh, jangan salah…banyak malah!! Tapi, jangan dibayangkan kalo kecanduannya ma obat-obatan terlarang… (ya Allah, na’udzubillah…Semoga semua ikhwah dijauhkan sejauh-jauhnya dari barang haram itu!!). Meskipun si penikmat (baca: penderita) gak sampe sakau, kecanduan di sini juga amat sangat berbahaya sekali banget bagi kelangsungan dakwah para ikhwah.

Berawal dari sekadar hobby, iseng, coba-coba, kebetulan, ngisi waktu luang, ato just hiburan, trus keasyikan, lalu jadi kebiasaan, dan…dan…dan…eh, malah kecanduan!!! Gaswat kaaan?!! Astgfirullah…Parahnya lagi, candu di sini gak mandang usia pembinaan. Gak peduli ia sudah tertarbiyah 3 tahun, 4 tahun, 7 tahun, 10 tahun, bahkan lebih. Seorang ikhwah yang rajin dalam pembinaannya tidak serta merta menjadi “kebal” terhadap candu-candu tersebut. Faktor yang mungkin sangat berpengaruh dalam penyebaran candu adalah lingkungan.

Mulanya mungkin sekadar pengisi kejenuhan. Tapi akhirnya menjadi aktivitas dominan, bahkan menyita banyak perhatian. Dan kemudian, agenda-agenda dakwah perlahan mulai ditinggalkan. Perlahan militansi akan berkurang. Sampai akhirnya melemah, dan….. hilang. Na’uudzubillah….Tsumma Na’uudzubillah....

Apa aja sih candunya?
Berdasarkan hasil penelitian sementara di lapangan, ditemukanlah jenis-jenis candu yang dapat merusak kesehatan -fikriyah, jasadiyah, dan ruhiyah- para aktivis dakwah, diantaranya:

1. Ngegames

Awalnya sih pengen cari hiburan, trus ketagihan. Apalagi kalo lagi nganggur alias gak ada kerjaan, ngegames aja aaah, refreshing gitu lhoh! Ck..ck..ck..Ini adalah jenis candu yang berbahaya, coz bisa dilakukan kapanpun dan di manapun. Bisa di kompi, lepi, atau HP . Gak di rumah, kantor, kampus, sekolah, di halte, sampe di dalam angkot.

2. Nonton Bola

Heran deh, betah banget 2 jam cuma melototin bola yang diuber-uber ma sekawanan orang. Istimewanya apa sih? (Waduh, ane bisa ditimpuk pake bola ma penggemarnya nieh). Mending juga maen bola di lapangan. Kan bisa menyehatkan dan menguatkan. Dari pada cuma nonton, yang olahraga biji mata doang. Candu ini akan semakin mewabah ketika musim Piala Dunia tiba. Hehehe jadi inget Bapak dan kakak, kalo pas ane lagi di rumah (liburan), beliau-beliaunya sering berpesan sebelum tidur malam, “Dek (Nak), ntar malem bangunin ya, jam 3”. “Mau tahajjud ya kak?” Tanya ane dengan polosnya. “Iya, sekalian nonton bola” Gyaaaaa…. Piiiss deh kak!! Bukannya ngelarang sih. Ida cuma takut besoknya waktu kerja di kantor kakak malah ngantuk. Eniwei, gak hanya ikhwan aja lho yang maniak bola, akhwat juga ada.

3. Film

Dari film-film lokal, Box Office, sampe Drama Korea. Gak peduli harus nyewa VCD ato ngacir ke bioskop. Kecanduan film gak hanya dalam bentuk nongkrong di depan layar kaca, tapi juga ke dalam otak dan mempengaruhi pandangan kehidupan.

4. Maen PS

Biasanya ikhwan nieh (tapi, gak tertutup kemungkinan akhwatnya juga). Awalnya mungkin sekadar pengisi kejenuhan, trus penasaran kenapa gak menang-menang (kalah mulu), lama-lama jadi kecanduan. ‘Afwan, ane kurang paham soal PS, coz emang gak tertarik ma jenis olahraga jempol tangan yang gak menyehatkan ini. Yang jelas, maen PS sangat berpotensi untuk bikin kita lupa waktu..!!

5. Komik

Waduh, ini juga jenis candu yang amat berbahaya. Diawali dari hobby trus dikoleksi, dan kalo dah keasyikan baca, bisa lupa diri. Parahnya lagi, jika tokoh-tokoh dalam komik diadopsi dan dicocok-cocokkan ma karakter pribadi. Ada yang suka karena ceritanya yang lucu, kocak, semangat, dan penuh misteri. Gak heran kalo ikhwah ada yang terobsesi dan mempersepsikan diri seperti Conan, Naruto, ato Kakashi.

6. Musik

Ada yang punya grup nasyid latihannya hampir tiap hari (Apalagi kalo musim walimahan seperti saat ini ). Intensitas dengerin nasyid lebih sering ketimbang Murottal. Nasyid yang didengerin juga masih diragukan statusnya sebagai nasyid (Maksudnya?). Musik..musik..musik… Dari yang jahiliyah sampe yang (katanya) islami. Awalnya mungkin gak sengaja denger dari temen-temen. Ato kebetulan gak ada acara. Daripada bengong, lebih baik mengaktifkan indra audiovisual. Maka layar kaca menjadi alternatif. Kebetulan acaranya musik-musik yang lagi in. hampir semua stasiun kereta api (eh, televisi) menyajikan menu musik jahili. Ada INBOX, Dahsyat, Klik, MTV Ampuh, dll, dsb, dst. Walhasil, aktivis dakwah jadi hafal lagu-lagu “aneh” gitu ketimbang hafal Al Quran dan hadist. Dan saking terbiasanya, lirik-lirik itu sampe kebawa ke ruang bawah sadar dan tercetus seketika. Kayak kemaren, pas ada seorang akhwat yang sebel ma temen akhwatnya, tiba-tiba temen akhwatnya langsung berkumandang, “Eh eh koq gitu sih..lo koq marah…jangan gitu sayang, jangan gitu sayang.” Seraya merayu dan menggodanya (Prens Filah tau kan itu lagunya siapa). Ckk..ck..ck…sampe segitunya. Penyebarannya memang dahsyat.

7. Ngenet

Whuaaa…ini nih candu yang gak kalah hebatnya dibanding candu-candu yang lain. Mulanya mungkin kebutuhan, cari informasi, ajang silaturahmi, pengen diskusi, trus…trus…trus… Yup! Asyik memang melanglang buana di dunia maya. Kalo kata Gita Gutawa, “Tak perlulah aku keliling dunia”. Mau berita apapun, semua dah tersaji di depan mata, di kotak segi empat di hadapan Anda. Tinggal KLIK! Apalagi dengan fasilitas-fasilitas internet yang memanjakan. Mau berekspresi dengan tulisan, ada Blog. Mau nampang (menarsistkan diri), ada Face Book. Mau ngobrol-ngobrol en diskusi bisa Chatting. Mau kenalan, ada Friendster. Mau promosi dan bisnis juga bisa. Kurang apa lagi coba? Adanya kurang bisa mengontrol diri untuk gak berlama-lama di depan kompi/lepi.

8. Dan lain-lain, dan sebagainya, dan seterusnya....(pikir sendiri ya..)

Menarik” bukan melihatnya sebagai sebuah fenomena? Namun, seringkali pada diri yang “lemah” justru akan menjadi semacam pembenaran. Perlu diketahui, bahasan kita di sini bukan soal boleh atau tidak, tapi seberapa besar porsinya hingga mengalihkan kita dari aktivitas-aktivitas produktif dan agenda-agenda prioritas.

Demikianlah semua aktivitas-aktivitas yang sederhana, namun tanpa disadari menjadi candu dalam pergerakan dakwah. Fenomena-fenomena tersebut sebagian besar menyita waktu-waktu produktif kita, menggerogoti ruhiyah, dan melemahkan militansi dakwah.

Jika hari ini kita dapatkan kualitas dakwah kita menurun, maka cobalah untuk memeriksakan (baca: mengevaluasi) kesehatan dakwah kita. Mulai dari memutaba’ahi aktivitas sehari-hari kita, amalan-amalan kita, dan terutama niat-niat kita.


Wallahu Ta'aala a'laamu bishshawaab..

NB: Ohya, ada nih kecanduan yang harus senantiasa dilestarikan, antara lain: Dzikir, Tilawah, Hafalan Al-Quran, Infaq & Shodaqoh, Tholabul ‘ilmy (datang ke majelis-majelis ilmu, dauroh, training, kajian, dll).

Owkeh!! Tetep Semangaaattzz!!!!

“Tidak penting kamu suka atau tidak, yang penting Allah ridho atau tidak”

http://akhwatzone.multiply.com/journal/item/128

Minggu, 02 Oktober 2011

Menanti Sepenuh Hati

Assalamu’alaykum Warohmatullahi Wabarakatuh...
Hai, Cinta...
Bagaimana kabarmu sekarang? Apa kau baik-baik saja? Aku tak tahu saat ini kau sudah sampai di mana, namun yang aku tahu kau sedang melangkah menuju istana hatiku.

Tahu tidak...
Saat melihat teman-temanku satu per satu menyambut cintanya, aku pun bertanya di mana kamu? Kapan kau tiba? Apakah tidak ingin gegas berjumpa denganku? Terkadang aku bertanya mengapa kau tak kunjung datang, apakah kau sengaja memperlambat langkahmu? Astaghfirullah, jangan sampai pikiran buruk itu terus menggelayut di benakku.. Mungkin saja memang jarak yang harus kau tempuh masih terlalu jauh... Sabar ya! Semangat berjuang ya, cinta!

Aku mencoba untuk terus menunggumu, terima kasih ya karena kau telah kirimkan sahabat-sahabatmu yakni ikhlas, sabar, qona'ah dan tawadhu yang membuatku tetap yakin untuk menunggumu di sini.

Allah memang Maha Tahu kondisi hamba-Nya dan mungkin Dia melihatku belum siap untuk menerima kedatanganmu, cinta. Dia ingin aku benar-benar siap saat menerima kedatanganmu, karena kau memang sangat istimewa buatku. Biarlah...mungkin ini yang terbaik bagi kita.

Oya cinta...
Sambil menunggumu aku belajar banyak hal dan aku yakin kau pasti akan menyukainya. Aku akan berusaha memberikan yang terbaik untukmu karena ku tak ingin kau kecewa saat kita berjumpa nanti. Ku ingin saat itu menjadi saat yang tak terlupakan, di mana akhirnya kita bertemu setelah lelah kau berjalan dan setelah sekian lama aku menunggu.

Cinta...
Jika kau lelah dalam perjalananmu, istirahatlah sejenak. Jangan lupa untuk selalu minta petunjuk-Nya di setiap langkahmu, yakinlah Dia pasti akan menunjukkan arah yang benar menuju istana hatiku. Jangan takut, aku akan tetap menunggumu di sini... menunggu dengan sepenuh hati.

Seindah purnama melingkar
Sebening bintang berkilauan
Mengajak aku mengingatMu
Sujud penuh rindu
Aku pun mengharap padaMu
Engkaupun mendengar pintaku
Untuk bahagia terbaik di dalam hidupku
Doa cinta mengalun merdu
Kurasakan agungnya di jiwa
Engkau tak pernah tinggalkan diriku
Dalam segala musim dan keadaan
Doa cinta hembuskan tasbih
Iringi langkah ke mana kupergi
Engkau berikan bahagia selalu
Agar ku tiada pernah sendiri
Doa cinta kulantunkan
Doa cinta kuhembuskan
Doa cintaku padaMu...


http://www.aisyaavicenna.com/2011/08/menanti-sepenuh-hati.html

Aktivis Dakwah Kampus dan Romantismenya

Islamedia - 2 tahun silam, masih teringat tajam Kisah perjalanan sekelompok manusia ‎yang mewakafkan dirinya untuk umat. Kisah manusia pilihan yang hidup untuk memperbaharui peradaban.
 
Mereka dipersatukan sejak awal masuk kampus, namun ada juga yang datang kemudian. Mereka belajar bersama, mereka berjuang sama, mereka bergerak bersama, dalam satu cita, Islam.
 
Perjalanan dakwah tak selamanya dihiasai ukhuwah yang indah, kadang adakalanya timbul pertengkaran kecil, kadang hadir cinta dan persahabatan yang kekal.  Semua kejadian, semua problema, semua konflik antar aktivis dakwah, bukan menandakan dakwah menghancurkan ukhuwah, justru dakwah ini telah mempererat ukhuwah.
 
Ditengah perjalanan masa perkuliahan, ketika tanggung jawab dan amanah sudah waktunya diberikan, merekapun dengan semangat memilih jalan masing-masing, ada yang memilih jalur siyasah ( BEM) , LDK, DKM, Himpunan, dan lembaga-lembaga lainnya baik yang internal ataupun eksternal.
 
Sejak saat ini, mereka mempunyai tugas dan peran yang berbeda, meskipun tetap berada pada halaqah yang sama. 
 
Roda perjalanan pun berputar seiring jaman. Berbagai masalah dan konflik mulai berdatangan. Inilah ujian keimanan dan tujuan kita dipertemukan dengan tarbiyah.
 
Ketika ukhuwah mendapat ujian, mulailah timbul ketidakpercayaan, ketika agenda-agenda dakwah berantakan dan saling bertabrakan, mulailah mereka saling menyalahkan. Ketika banyak tantangan dan ujian, tidak sedikit mereka berjatuhan, mundur lantas menghilang dari pentas dakwah.
 
Ketika halaqah, yang seharusnya menjadi ajang untuk konsolidasi, memperbaiki dan menyatukan arah dakwah, digunakan sebagai ajang perdebatan, halaqah yang biasanya dipenuhi cinta dan ketenangan, berubah menjadi tangis dan kekacauan.
 
Perbedaan yang sebenarnya kecil, bisa berubah menjadi besar dan berujung konflik antar lembaga dalam menentukan arah dan strategi dakwah.
 
Namun sekali lagi, ini bukanlah kehancuran, karena pada hakikatnya, ini adalah proses menuju kedewasaan dalam mengelola perbedaan.
 
Dakwah kampus memang memiliki keunikan, dinamis dan memiliki kompleksitas yang sangat tinggi. Maka, tidak heran jika permasalahan dan tantangan juga tinggi dan beragam. Namun, disinilah letak dari proses pembelajaran, pendewasaan dan persiapan yang matang sebelum terjun ke masyarakat.

Pertengkaran kecil itu akan menjadi kenangan yang sulit dilupakan, menjadi perekat yang sangat kuat dalam persaudaraan. Menjadi sebuah kerinduan.
 
Dan akhirnya, kelulusan seakan menjadi akhir dari perjalanan, mereka mulai berpisah, ada yang tetap istiqomah melanjutkan dakwah dan tarbiyahnya, baik di kampus atau di masyarakat, namun ada juga yang berhenti dari dakwah dan tarbiyah, dan memilih jalannya sendiri.

Itu semua plilihan, yang pasti romantisme dakwah kampus telah membuat mereka dewasa, mempererat ikatan hati mereka, mengekalkan cintanya, bertemu dalam ketaatan, bersatu dalam perjuangan.
Semoga Allah membimbing, memberi keistiqomahan dalam langkah mereka, dalam jalan mereka, mengekalkan cinta mereka, memberikan azam dan tekad dalam dakwah dan tarbiyahnya, dan mempersatukan mereka di dunia dan di surgaNya.


Fajar Fatahillah

*Didedikasikan kepada Aktivis Dakwah Kampus di seluruh Indonesia, Forum Silaturahim Lembaga Dakwah (FSLDK), dan khusus kepada sahabat perjuangan di kampus putih biru, Bandung Selatan

Dakwah tak akan mati, tapi kita akan mati.
Kita akan mati sebagai pengemban Dakwah atau Mati sebagai beban bagi Dakwah?
Bergerak, dan terus bergerak, untuk kebangkitan Dakwah Kampus.