Kamis, 25 Juni 2015

Khutbah Nikah oleh Muhammad Anis Matta


Islamedia.co -  Kita seringkali menganggap pernikahan itu adalah peristiwa hati. Padahal sesungguhnya pernikahan adalah peristiwa peradaban.

Ini bukan cuma tentang 2 manusia yg saling mencinta lalu mengucap akad. Tetapi bahkan ini merupakan peristiwa peradaban yg mengubah demografi manusia

Pernikahan adalah sayap kehidupan. Rumah adalah benteng jiwa. Jika di rumah kita mendapat energi memadai, di luar rumah kita akan produktif

'Sakinah' bukan cuma 'tenang'. Ia berasal dari kata 'sakan' yang artinya 'diam/tetap/stabil'. Maka ia menjadikan tenang karena stabil, bukan tenang yang melalaikan

Sakinah adalah perasaan tenang yang lahir dari kemantapan hati. Manusia menjadi tenang saat kebutuhan-kebutuhannya terpenuhi secara komprehensif

Al Quran menjelaskan: 'Kami jadikan air sebagai sumber kehidupannya'. Air (mani) merupakan: sumber (simbol) stabilitas (psikis saat diatur volumenya dalam tubuh) dan produktifitas (kualitas semangat & kuantitas keturunan)

Hakikat pernikahan tidak bisa dipelajari dari manapun. Learning by doing. Islam mengarahkan menikah muda agar rasa penasaran itu cepat terjawab.

Agar setelah 'rasa penasaran' itu terjawab, perhatian seseorang bisa lebih banyak tercurah dari urusan biologis ke intelektualitas-spiritualitas.

Tidak perlu takut terhadap beban hidup, yang perlu dilakukan hanya mengelolanya. Sebab pelaut ulung pun lahir setelah melewati gelombang-gelombang samudera

Yang bisa membuat kita melewati gelombang itu adalah persepsi awal yang benar tentang cinta. Yaitu cinta sebagai dorongan untuk terus memberi pada yang kita cintai

Hubungan yang terbina dari sini bukan hanya hubungan emosional, tapi juga spiritual-rasional. Karna keluarga ini adalah basis sosial terkecil untuk membangun peradaban.



Khutbah Nikah oleh Presiden PKS Ustadz Muhammad Anis Matta Saat Pernikahan putra Ketua DPW PKS Jawa Barat Ustadz Tate Qomaruddin, Yasir di Pusdai Bandung (23/1/2015)

Selasa, 19 Mei 2015

Karena Cinta butuh Keberanian



Mencintai Biostatistika adalah sebuah ikhtiar besar, perlu keberanian. Setidaknya itulah yang saya rasakan. Sejujurnya saya bukan orang yang cukup pandai dengan materi Statistika. Nilai ujian SMA BAB Statistika di Matpel Matematika saya pun ngepress batas nilai minimum. Tak ada yang istimewa. Tapi entahlah setahun terakhir, hingga sekarang seolah Biostatistika menjad candu bagi saya. Saya mulai mencintainya dengan segala keberanian dan keterbatasan yang saya miliki. Kisah ini bermula saat saya akan menentukan topik Skripsi. Di fakultas dimana saya melanjutkan jenjang Sarjana terbagi menjadi beberapa peminatan Departemen. Di FKM UA terdapat 7 Departemen diantaranya Biostatistika dan Kependudukan, AKK, Kesehatan Lingkungan, Gizi, K3, Epidemiologi, dan Promkes. Kebetulan saya tertarik untuk masuk ke Biostatistika dan Kependudukan. Kenapa departemen ini yang saya pilih, karena bekal saya dari D3 lebih banyak tentang KIA, dan di Departemen ini diulas lebih dalam.

Saya sempat gonta ganti topic untuk menentukan judul skripsi saya, bonek berangkat ke Gresik untuk mencari Puskesmas dengan kriteria yang saya harapkan, tapi setelah tahu jarak Surabaya-Gresik bisa bikin fisik saya kelelahan kalau setiap hari PP. H-4 sebelum ujian proposal (karena waktu itu seminar proposal sekaligus masuk dalam mata kuliah praktikum metodologi penelitian, jadi sempro dilakukan satu kali waktu itu saja) saya baru menemukan topic yang ingin saya pakai. Saya sudah tahu siapa pembimbing saya sebelumnya, tapi memang tidak diwajibkan untuk konsul dulu sebelum seminar. Biasanya kalau sudah semester 8 baru lah konsul dengan pembimbing skripsi. Entah apa yang saya pikirkan, saat saya menemukan satu jurnal tentang biostatistika yang membahas Angka Kematian Ibu dengan analisis spasial. Saya tertarik dengan judulnya, dari analisisnya kelihatannya juga tidak tidak terlalu rumit. Jadilah saya menggunakan topic analisis spasial dengan objek penelitian AKB (Angka Kematian Bayi). Saat itu saya ragu apakah topic ini cukup membuat dosen penguji saya nanti terkesan atau justru saya akan ditanya habis-habisan karena terus terang saya tidak tahu banyak tentang topic yang saya ambil. Yang saya lakukan setelah ikhtiar yang maksimal, sekaligus doa yang tiada henti, adalah tawakal. Biar Allah yang member keputusannya yang terbaik untuk saya. Sebelum maju presentasi proposal saya, saya sempatkan untuk menghubungi Ibu Bapak di Blitar. Dan Alhamdulillah, penguji saya bilang kalau topic saya menarik masih belum banyak diteliti di FKM.

Tekad saya kuat untuk melanjutkan penelitian ini. Sekalipun saya harus beruusaha keras belajar darii awal tentang biostatistika. Perlu diketahui bahwa D3 saya tidak banyak membahasnya, saya dari kebidanan, sehingga saya harus benar-benar serius dalam belajar. Saat saya mengajukan topic ke pembimbing, kebetulan pembimbing saya adalah Professor di Departemen Biostatistika dan Kependudukan, beliau terkesan dengan judul saya, tidak lebih dari 3 kali konsultasi, beliau meminta saya lakukan penelitian. Dan disinilah cinta itu bermula

saya butuh software untuk menjalankan analisis saya, Alhamdulillah bisa download secara gratis, tapiiiii tidak bisa dibuka. Berulang kali dicoba didownload ulang tetap tidak bisa. Dan barulah saya kepikiran meminta bantuan ke saudara saya yang kebetulan waktu itu ada yang di Jepang. Biasanya kalau saya ada kesulitan saya minta tolong beliau, siapa tahu bisa membantu. Dan benar setelah saya minta tolong pada beliau, ternyata ada satu bagian file yg belum terdownload sehingga programnya tidak bisa dijalankan. Dan sekarang programnya sudah terdownload secara lengkap. ALHAMDULILLAH

Apakah masalah sudah tidak ada? Jelas masih berlanjut, sekarang masalahnya ada di bagian bagaimana caranya menjalankan aplikasinya, ada tutorialnya tapi tak cukup membantu. Ya gini ini kalo bahasa inggrisnya nggak pinter-pinter banget :’( . sebenarnya gak terlalu sulit bahasanya Cuma gak terlalu  bisa memahaminya… saya othak athik hasilnya nggak karuan, belum lagi ini gimana caranya mindah jadi peta-peta cantik warna warni ya… Alhamdulillah saya menenmukan jurnal yang cukup membantu, sayangnya belum membantu memindahkan ke dalam bentuk peta.

Berangkatlah saya menemui Profesor, biasanya jam-jam istirahat justru mudah ditemui. Saya sampaikan kesulitan saya saat mengerjakan skripsi ini, bagi Profesor materi saya ini blm begitu dipahami akan tetapi paham bagaimana maksudnya. Dipanggilah dosen-dosen yang ada disebelah untuk mengajari saya mengerjakan skripsi. Dan jawabnya adalah belum pernah nyoba pakai software yang dimaksud. Saya sudah mulai resah dengan skripsi saya ini. Profesor sampai harus memundurkan jadwal mengajar kuliah S2 karena saya. Saya terharu waktu itu. Profesor ingat dulu ada bimbingan S2nya yang sama-sama menggunakan uji ini hanya softwarenya berbeda, dan sekarang tidak punya nonya. Dan akhirnya beliau telpon salah satu dosen di ITS. Profesor bertanya bagaimana upaya penyelesaian skripsi saya ini. Dan ALHAMDULILLAH, pertolongan Allah itu cepat dan tepat. Ternyata akhir minggu ini ada pelatihan di ITS jurusan Statistika salah satunya dengan uji yang saya gunakan, dan saya direkomendasikan untuk mengikutinya. Lemaslah rasanya, Allah… Takjub, dan benar bahwa Pertolongan ALLAH itu Cepat dan Tepat.
Bersama Kesulitan Ada Kemudahan (Al Insyirah: 6)
Dalam 1 Kesulitan itu ada 2 Kemudahan
Melangkahlah kaki ke Statistika ITS. Deg…. Saat mengisi presensi, saya cukup kaget, bahkan minder. Kenapa saya minder, nanti akan ada di cerita selanjutnya. Yang saya tahu professor saya mengisi di pelatihan ini di materi pertama, materi pembuka. Kurang lebih penjelasannya adalah tentang biostatistika secara umum, hampir sama dengan apa yang saya dapatkan di kampus.  Diakhir materi saya pikir beliau tidak akan berkata apa-apa, tapi ada yang membuat saya kaget. “Mahasiswa saya ada yang ikut pelatihan hari ini, Mahasiswa bimbingan saya, dimana ya” begitu kata professor. Ada satu mbak-mbak yang mengacungkan tangan tapi kemudian professor bilang “Bukan kamu yang saya maksud mahasiswa S1”. Ishhhh….. saya yang berencana menutupi identitas saya karena di dalam sana isinya orang-orang S2, S3 bahkan juga dosen dari luar pulau jadi ketahuan. Karena jujur ini yang bikin saya minder, takut tidak bisa mengikuti jalannya pelatihan waktu itu. Saya akhirnya mengacungkan tangan, “Iya, kamu mahasiswa saya…  ini mahasiswa S1 saya, kebetulan ambil uji analisis spasial yang akan di bahas di sini. ikuti pelatihan ini baik-baik ya, diselesaikan saja sekalian analisisnya di sini”. Fiuhh… Profesor saya memang professor luar biasa, sangat perhatian dengan mahasiswanya. Terima kasih Prof.
Alhamdulillah, Allah berikan kemudahan untuk memahami setiap materi yang diberikan. Saya cukup senang dengan hal-hal baru. Akan tetapi meskipun saya tertarik dengan hal-hal baru masih ada beberapa istilah yang belum saya pahami. Bersyukur saya bisa berkenalan dengan salah satu peserta, namanya mbak Arifah. Mbak Arifah baik banget orangnya, kalau kurang paham biasanya mbak arifah yang telaten ngajari. Alhamdulillah masalah saya sekarang sudah terjawab penyelesaiannya.
Usai pelatihan, usai menyelesaikan analisis, baru saya menghadap kembali ke Profesor. Bukannya saya konsultasi, tapi saya diminta untuk mengajari bagaimana analisis itu bisa dijalankan. Hehe… kapan lagi mahasiswa ngajari professor ya hehe… bukan itu maksudnya, canggung benar saya menjelaskannya. Ada pesan yang disampaikan sebelum berakhir waktu itu, “Jangan dilepaskan ya ilmunya ini, dikembangkan, lanjutkan S2 setelah ini ya”.
“Insya Allah Prof, jujur prof saya sempat minder kemarin karena isinya kebanyakan S2 dan S3, dan saya masih mau menyelesaikan S1.” Begitu jawab saya.
“ Lho ngapain minder, gak usah minder. Siapa tahu nanti bisa sampai S3. Sudah lanjutkan saja kuliahnya. Saya yakin kamu bisa, kamu bisa jadi dosen setelah ini, sukses ya” jawab professor dengan pesan yang begitu meyakinkan saya. Dan dari peristiwa-peristiwa itulah akhirnya cinta itu makin bersemi. Saya mungkin baru akan masuk jenjang S2, karena sekarang masih masa penantian menunggu jadwal kuliah. Saya mungkin masih anak baru di dunia Biostatistika. Tapi saya berharap kelak apa yang saya dapatkan adalah ilmu yang barokah. Ilmu yang manfaat yang menjadi sebab beratnya timbangan amal di akhirat. Doakan saya bisa menyelesaikan sekolah saya tepat waktu, dan semoga bisa lebih cepat dari seharusnya. Doakan saya tidak malas, Doakan saya untuk tetap bisa menjaga iffah dan izzah dimanapun saya berada. Doakan saya jauh dari kata sombong. Doakan saya jadi wanita sholihah ya… ;-)

Griya Anisa, 20 Mei 2015
Pejuang Syahidah

Kenangan itu ada di Griya Anisa ^_^




                Ahhhh rumah ini terasa lama tak dikunjungi deh ya. Ayo mulai menulis lagi. Sebenernya udah banyak yang mau ditulis, tapi sayangnya kebanyakan alasan sih jadi gak ketulis-tulis deh. hanya diangan-angan aja. Aslinya ya eman tapi ya gitu deh… padahal inspirasi itu gak setiap saat muncul lhoh. Dan pas sekarang muncul, marilah kita menulis lagi kawan hehe…
                Tapi jujur sekarang mau nulis apa ya. Enaknya nulis apa? Pas lagi gak kepengen mikir yang berat-berat, pinginnya sih nulis yang sederhana aja tapi tetep ada yang pesan yang ditinggalkan. Nahhhh pas nyari ide nulis, pas ibu kos ketokin pintu kamar ngasih kartu pembayaran hehe. Tenang, saya mah kalo bayar g pernah nunggak kok :-D . Jadi ibu kos nggak lagi nagih uang kosan hehe.
Pas liat kartunya baru ngeh kalo di Griya anisa udah satu tahun ya  1 Mei kemarin. Sebut saja GA ya, disinilah kebersamaan itu terbina, GA itu punya kesan yang mendalam. Mulai dari bertemu dengan sahabat-sahabat yang sama-sama tinggal satu kosan, sampai akhirnya sudah pisah sendiri-sendiri meskipun masih ada yang tetap bertahan di sini. Griya anisa itu salah satu saksi bisu kita menikmati majelis-majelis ilmu, taman-taman surganya dunia, ngerujak bareng, belajar bareng spectrum sampai suara serak. Meskipuuunnn kadang kalo rame dapat teguran sama ibu kos. Atau mungkin ada yang disuruh pulang gara-gara temen-temen ngumpul di kosan terus parkiran jadi penuh >.<
                GA itu adalah rumah yang penuh kenangan. Sebelum tinggal di sini, saat pulang PKL, saat sholat ashar dikamar salah seorang sahabat, saat hujan datang dengan derasnya, dan mendadak terdengar air hujan mengguyur ruangan dengan derasnya. Panik, bingung harus berbuat apa karena mendadak GA kebanjiran. Hai Desty… masih ingatkah kejadian ini, antara kejadian lucu, haru dan menyedihkan. Tapi tenang sekarang sudah tak terjadi lagi insya Allah. Kamar desty itu punya kenangan tersendiri, tempat yang mungkin paling banyak tahu tentang curahatan hati kalo lagi galau… kalo lewat kamar desty dulu keinget desty yang lagi nyalain laptop di atas meja lipat di lantai dengan nyala lampu yang tak seberapa. Dan sekarang penghuninya sudah berganti kecuali Afril. Hei Desty… ditunggu jadi warga UA lagi ya, semoga ALLAH memudahkan langkahnya untuk kembali berjuang di UA.. aamiin.
                Salah satu sudut kamar yang punya kenangan dan juga bernilai sejarah (Agak lebay) adalah kamar Adish Vian :-D . Di sudut kamar yang paling luas di GA ini adalah saksi bisu kami belajar bersama, baik mengkaji Al Quran dan juga perkuliahan. Tapi yang paling punya kesan adalah saat kita mengkaji Al Quran. Disinilah kami berdiskusi bagaimana menjadi generasi qurani, sayangnya saat sudah mulai menyelesaikan skripsi kegiatan rutin itu pun mulai pudar. Tapi Alhamdulillah, komitmen untuk tetap membaca, mengkaji dan mengamalkannya insya Allah selalu ada dan tetap berjalan. Di kamar vian juga paling enak diskusi tentang masa depan, tentang ide-ide brilliant, tentang keinginan untuk semakin bermanfaat untuk umat. Kami berdua sering berbicara mimpi-mimpi di sini, keinginan untuk melanjutkan kuliah lagi, keinginan menjadi relawan anak jalanan meskipun akhirnya gak bisa dilanjutkan. Tinggal sama vian deh klo kemana-mana butuh teman, soalnya tinggal vian yg masih bertahan. Semoga vian dimudahkan untuk menuju kampus perjuangan selanjutnya, di kota yang jauh nan di sana, 5 jam dari Surabaya
                Sudut lain yang tak kalah punya kenangan adalah kamar Dyah Ambarwati dan Mpok Laela. Biasanya kalau ada agenda-agenda ruhiyah sering berkunjung ke sana sebelum berangkat. Kalau susah banget belajar biasanya lari ke kamar ambur buat belajar bareng, sampek kemarin sumpek ngerjakan proposal skripsi lari ke sana nyari ketenangan. Karena kamar ini memang tenang setenang penghuninya hehe. Patner I’tikaf ramadhan tahun lalu adalah penghuni kamar ini. Hampir setiap hari berangkat dan pulang bareng dari masjid termasuk nyari buka puasa. Dan kini penghuninya sudah berganti, penghuni lamanya sudah kembali ke kampung halaman, ke Pekan baru dan Tangerang. Semoga Allah mudahkan dan lancarkan rizkinya untuk adinda-adinda berdua… aamiin.
                Tulisan ini bukan promosi kostan Griya Anisa ya, tapi kalo bagian dari promosi juga gak papa deh hehe. Yang jelas Griya Anisa itu punya kenangan tersendiri. Tempat dimana banyak sahabat yang membersamai, rumah yang menjadi saksi bisu suksesnya kawan-kawan berjuang sampai lulus kuliah. Termasuk juga rumah yang menjadi saksi bisu saat galau-galau itu terjadi. Namanya juga manusia jadi kalau galau ya wajar ya hehe. Udah gitu aja yang mau ditulis. Semoga Allah jadikan persahabatan, persaudaraan kami hingga ke SurgaNya… aamiin

Pejuang Syahidah
Griya Anisa , 19 Mei 2015

Selasa, 30 September 2014

JODOHKU.... KACAMATAKU

Mungkin seperti itulah jodoh, tak perlu banyak memilih, yang pasti tetap melakukan pertimbangan. Akan cocok atau justru tidak. Kira-kira itu yang saya dapatkan saat memilih...... kacamata. Hehe....

Minggu lalu saya dapat rejeki nih... alhamdulillah. Diajakin bapak ibu ke optik. Awalnya ibu yang mau ngebenerin kacamata ibu, tapi akhirnya sama ibu ditawari buat beli frame sekaligus ganti lensanya. Emang sudah sejak lama pengen ganti frame soalnya sudah mengelupas gitu. Tapi masih tetap nyaman dipakai. Tak butuh waktu lama untuk memilih, karena saya bukan orang yang suka berlama-lama saat berbelanja hehe... nggak nyambung deh. Di etalase banyak nian macam dan model frame yang unyu-unyu... tapi hanya beberapa yang dilihat. Kalau dulu bisa cukup lama untuk memilih tapi sekarang cuma lihat 1 atau 2 udah memutuskan mana yang pas dan mau dibeli.

Terus apa hubungannya sama jodoh? Ada. Salah satunya saat saya memilih. Mungkin seperti itulah jodoh. Tak butuh waktu lama meskipun juga ada yang berlama-lama. Tapi begitulah saat jodoh itu datang. Tak terduga... tak terduga kalau saat itu saya bakal dapat kacamata baru. Mungkin suatu hari nanti akan bilang tidak terduga kalau ketemu jodohnya, pendamping hidup dunia akhirat... ceileeee. Yang kedua, saat memakai kacamata yg baru saya butuh adaptasi lagi. Meskipun ukuran minusnya tetap dan tidak berubah. Cuma frame dan kualitas lensanya yang mengalami perubahan. Begitu juga nanti jika saatnya sdh berdua, sekalipun sudah sesuai kriteria masih saja butuh adaptasi, harapannya dengan berdua pasti menambah kualitas iman hehe. Mungkin ada saatnya akan membandingkan memakai kacamata lama karena sudah terbiasa merasa lebih nyaman dengan kacamata baru yang butuh energi adaptasi biar bisa menyatu. Begitu juga dengan saat sudah bersuami, akan ada masanya membandingkan diri saat masih single, dengan saat sudah bersuami yang harus berusaha adaptasi dg sepenuh hati karena nyatanya sekalipun sudah masuk kriteria ya saya pilih dia tapi ada sisi yang berbeda dengan kita.... huhuhu.... gitu intinya.... :D

Selasa, 02 September 2014

Ramadhanku... Ramadhan ceria ;-)

meski Ramadhan sudah berlalu 2 bulan lalu, tapi masih teringat jelas bagaimana Ramadhan tahun ini, 1435H ini lebih indah dari tahun-tahun sebelumnya, semoga saja tahun-tahun berikutnya masih diijinkan untuk menikmatinya kembali bersama dengan keluarga dan keluarga baru, lhoh???? hehe... anggap saja bagian dari doa.

kenapa kok judulnya ramadhan ceria, soalnya ramadhan tahun ini pertama kalinya safari masjid, dari masjid satu ke masjid yang lain, yang pasti tujuan utama bukan nyari buka puasa kok, meskipun juga efeknya bakal dapat buka puasa dari masjid, tapi pengen memperdalam ilmu agama hehe, kan kalau ramadhan masjid-masjid biasanya menyediakan menu kajian yang istimewa :-)

hal lain yang juga istimewa itu di sepuluh hari terakhir ramadhan... ahhh Allah, Engkau ijinkan hambaMu untuk mendekat padaMu bersama dengan orang-orang yang hamba sayangi, tak hanya teman-teman sekosan yang bisa diajak ke masjid, tapi juga keluarga. kalau diawal-awal bersama dengan Mas, Istrinya, sama ketiga anaknya yang masih krucil-krucil itu, dan di hari-hari akhir untuk pertama kalinya lengkap sama Bapak, Ibu, sama Mbak, waktu itu mbak nggak sama suaminya soalnya pas masih ada kerjaan di luar kota. ahhh betapa bahagianya hati saat dikumpulkan bersama keluarga disaat-saat menikmati Ramadhan, dan semoga kelak Engkau kumpulkan di SurgaMu... aamiin.

udah gitu doang... hehe

Rabu, 27 Agustus 2014

Jilbab itu...... Istimewa ^_^

Ehemm... Wusss.. akhirnya nulis lagi... nengokin blog ini lagi, bersih-bersih lagi, kayaknya berdebu ni rumah yak... hehe. sebenarnya banyak yang pengen ditulis tapi apa mau dikata, sok sibuk gitu dahh... oke guys, langsung aja cuss ya... judul tulisan saya kali ini seputar jilbab, ada apa dengan JILBAB???

Kalau saya ceritakan bagaimana kisah saya akhirnya memilih berjilbab "RAPI" dengan kata lain (semoga) sudah masuk kategori Syar'i, tidak ada yang spesial, waktu SD memang sekolah di madrasah jadi sudah pakai jilbab, tapi dulunya memang kalau sekolah aja, tapi sejak kelas 6, kakak laki-laki saya dengan entengnya menyuruh saya membiasakan diri pakai jilbab. meskipun belum rapi tapi saya tidak pernah pakai jilbab yang pendek, Alhamdulillah selalu menutup dada, tapi masih sering pakai celana. baru saat saya masuk kelas 1 SMP, yang kebetulan juga di Madrasah Tsanawiah, saya baru memakai Jilbab yang syar'i, bukan karena permintaan atau saya sadar bagaimana menggunakan jilbab yang benar, tapi karena ibu saya membelikan saya kain yang lebar buangeeeetttt terus dijahit jadi gamis yang cantikkkk hehe... sudah saya bilang tak ada yang spesial kokkkk :D

Tapi bukan itu yang akan saya ceritakan di sini. beberapa waktu lalu saya pulang kampung, kebetulan naik Bus. karena jumlah bus yang akan saya naiki ini terbatas jumlahnya dan hanya ada sejam sekali, jadi harus sabarrrr nungguin di Terminal. bau kendaraan bermotor, teriakan kondektur bis antar kota, lalu lalang asongan menjajakan dagangan, debu yang beterbangan, panas yang menyengat, asap rokok yang bisa bikin eneg, orang yang kesana kemari bawa barang berkardus-kardus, tas ransel atau tanpa tentengan apapun, apalagi kira-kira yang bisa menggambarkan sebuah Terminal Bus, di salah satu Kota Besar di Indonesia. karena di sana tidak ada tempat duduk untuk menunggu, jadilah saya duduk di pinggiran trotoar tempat bus tujuan saya nanti berhenti menunggu penumpang, sambil melihat kiri kanan. awalnya tak ada yang menarik, begitu-begitu saja. tapi kemudian ada yang membuat saya jengkel, risih dan sebangsanya.

sekitar 15 menit setelah saya menunggu lama, tiba-tiba ada seorang perempuan yang akhirnya saya tahu dia baru saja lulus SMA hendak berkunjung ke rumah saudara, saya tahu karena akhirnya di dalam bis kita sebelahan. terus apa yang membuat saya jengkel? sebut saja dia Fulanah, dengan membawa tas pakaian ukuran cukup besar, dengan tampilan anak gahul jaman sekarang, celana pensil, baju agak ketat, rambut panjang yang dikuncir kuda, cuma Fulanah tak pakai kosmetik, tapi kayaknya cuma pakai bedak. cerita bermula saat Fulanah tanya ke salah satu pedagang asongan "Pak, Bus ke kota xxxxxx di sini ya?" Sebut saja pak Asongan itu A, "Iya Mbak, di sini mbak.. sini-sini mbak saya bantu" ujar Pak A pada Fulanah. awalnya saya biasa aja lihat adegan itu, tapi kemudian semakin lama semakin ahhh sudahlah, pak A yang memang tak terlalu muda, juga tak terlalu tua itu terus2an nanya ke Fulanah dengan hal yang g penting, nanya rumahnya mana, mau kemana, namanya siapa de el el... seriusss risih. Melihat pak A yang Pak B (Asongan yang lain) datang mendekat ke arah Fulanah juga sambil duduk di depan si Fulanah "Mbak ati-ati mbak, jangan percaya sama si A itu, ati-ati kalau di Terminal... bla bla...." yang ujungnya sama aja sama pak A tadi yang nggodain si Fulanah. Dan Fulanah ngapain??? kelihatan Fulanah risih tapi gak tahu ngapain, jadinya diem sesekali menjawab pertanyaan si pak asong. gak cukup pak B yang ikutan Pak A, datang lagi asongan-asongan lain sok-sokan SKSD sama si Fulanah. nggak ngerti apalagi yang mereka katakan, saling menimpali lah satu sama lain.

Jujur saya sebagai perempuan merasa terhina, pingin marah terlebih saya belum bisa berbuat apa2 >.< saat saya melihat saudara saya digoda seperti itu, untungnya tak berselang lama bis yang kami tunggu tiba jadi si Fulanah bisa bebas dari godaan2 gak jelas kayak gitu. ada yang menarik saat peristiwa itu, di samping Fulanah ada seorang perempuan berjilbab, anggun dilihat, jilbabnya rapi. bila dibandingkan dengan Fulanah, tak kalah cantiklah. tapi kenapa si bapak-bapak Asongan itu nggak SKSD sama mbak berjilbab itu? mbaknya ramah kok, lawong saya senyum saja mbaknya balas senyum ke saya hehe. lalu apa alasannya??? ahh iya, ada yang berbeda dengan mbak ini dengan si Fulanah, iya bener. Jilbabnya... Jilbabnya yang melindungi si mbak cantik itu dari godaan lelaki, jilbabnya tak sekedar menutup aurat, jilbab sebagai melindungi wanita dari kejahatan. Jilbab yang syar'i juga bisa buat sholat jadi gak usah bawa mukena hehe, Jilbab itu membantu para kaum adam untuk menjaga matanya untuk melihat hal-hal yang dilarang.... Ahh iya, jilbab itu istimewa, seistimewa dirimu #eeaaa.

















يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu & isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah utk dikenal, karena itu mereka tak di ganggu. & Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” 
(QS. Al-Ahzab: 59)
Adanya Allah sudah memerintahkan bukan tanpa alasan, karena Allah teramat cinta pada hambaNya, hingga ingin selalu hambaNya terjaga, menjadi terhormat di dunia dan diakhirat. Jika memang belum berjilbab karena belum siap, siap seperti apa yang harus ditunggu sedangkan para Shohabiyah begitu bersegera saat turunnya ayat untuk berjilbab bagi seorang muslimah. Jika yang jadi alasan karena tak ada dana untuk membeli jilbab, niat baik insya Allah akan dimudahkan selama masih mau berikhtiar... ahhh jangan terlalu banyak mengurai alasan begitu kira-kira kata teman. kalau memang bisa disegerakan maka segerakanlah, sebelum akhirnya penyesalan di akhir hayat. demikianlah pemirsa yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat :)

Pejuang Syahidah

Jumat, 11 Juli 2014

LURUSKAN NIAT MENIKAHMU

Tulisan dibawah bukan asli tulisan saya lho, soalnya memang belum mengalami, ya sapa tahu setelah upload tulisan ini (meskipun copas) mengalaminya sendiri #eeaaa :D
Yang pasti saya suka dengan maknanya, ya bisa nambah-nambah dalam proses pembelajaran menuju ke sana. Karena Niat itu amat sangat penting sekali, iseng-iseng nyari dapatnya artikel ini, dan sesuatu banget dah isinya. Mungkin sedikit review sebelum masuk ke bacaannya, kita ingat kembali hadit arbain yang pertama, yuppss tentang NIAT

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى. فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ. 
[رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وأبو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khattab radhiallahuanhu, dia berkata, "Saya mendengar Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya setiap perbuatan ) tergantung niatnya ). Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya ) karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan. 
(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaaburi di dalam dua kitab Shahih, yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang).

dan selajutnya selamat mengambil ibroh dari tulisan ini...

Bagi yang paham, apabila sedang berada dalam proses menuju pernikahan, saat ditanya perihal niatan menikah, maka mayoritas jawabannya adalah sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT. Subhanallah.. betapa mulianya niat tersebut. Nah.. pertanyaannya, betulkah niatnya lurus untuk Allah dan hanya karena Allah? Hehehe.. biasanya, saat ditanya demikian, kita akan mengangguk yakin bahwa niatannya betul-betul lurus untuk ibadah kepada Allah.  Tapi sekali lagi, betulkah demikian?
Melalui postingan kali ini, yuk kita sama-sama analisis kelurusan niatan menikah kita. As usual based on my own experiences :)
Subhanallah.. Allah sungguh luar biasa. Pada saat saya sedang berproses ta’aruf kemarin, kami dipertemukan dengan seorang ustadz yang luar biasa pula, dan memang berkapasitas untuk menasihati orang-orang mengenai ilmu-ilmu pernikahan dalam Islam, terutama yang sedang dalam proses ta’aruf seperti kami.
Masih tampak jelas dalam ingatan saya, sore itu kami duduk di ruang buku ustadz tersebut, bersiap untuk mendengarkan berbagai wejangan demi kemudahan proses kami menuju pernikahan. Saya pribadi pada saat itu membayangkan akan menerima nasihat-nasihat indah yang menggiring harapan baik menuju pernikahan idaman. Hati saya dipenuhi pengharapan akan mendapatkan penjelasan mengenai langkah demi langkah yang jelas, untuk mencapai pernikahan yang barakah.
Pertemuan pertama saya dengan ustadz memperlihatkan saya pada sosok bapak yang tampak sangat bijaksana. Beliau ini merupakan mantan preman, yang setelah hijrah, malah semakin melesat dan kini sudah mendirikan banyak sekali rumah tahfidz untuk para santri penghafal Al Qur’an, subhanallah. Tak hanya itu, dunia kini justru berduyun-duyun mengejarnya.
Ustadz membuka percakapan melalui perkenalan dengan kami terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan bertanya mengenai kesibukan kami sehari-hari. Obrolan kami berlangsung sangat santai seperti sedang silaturahim biasa, bukan berguru atau memohon nasihat. Kami pun akhirnya menyampaikan niat kedatangan kami. Ustadz tersebut tersenyum memandangi kami yang saat itu sedang dalam proses ta’aruf. Bukannya memberikan nasihat, beliau malah meluncurkan pertanyaan, yang hingga sekarang menjadi pedoman kuat saya dalam pelurusan niat menikah. Simak baik-baik ya..
“Nak.. kalau kalian yang sudah berproses hingga sejauh ini ternyata  pada akhirnya kalian tidak berjodoh, tidak bisa sampai ke pernikahan..” beliau menghela nafas sebentar, kemudian menatap kami, “Bagaimana perasaan kalian?”
Seketika kami terdiam. Bagi saya pribadi, itu merupakan hal yang tidak pernah saya bayangkan sama sekali sebelumnya. Saking saya menikmati proses ta’aruf yang indah sesuai syariat Allah, tidak sekalipun terlintas dalam benak saya apabila kelak ternyata kami sebetulnya tidak berjodoh. Saya terdiam cukup lama, merenungkan seandainya hal tersebut benar-benar terjadi. Tidak terbayang sama sekali.
Ustadz memecah keheningan kami dengan mengulang kembali pertanyaan yang sama, “Bagaimana seandainya ternyata setelah berproses sejauh ini, ternyata kalian tidak bisa sampai ke pernikahan sebab kalian memang tidak ditakdirkan Allah untuk berjodoh?” Kami terdiam kembali dan benar-benar membayangkan apabila kelak hal tersebut benar terjadi. Dan akhirnya ustadz bertanya kembali, “Bagaimana perasaannya? Ternyata berat ya membayangkan bila setelah berproses sejauh ini ternyata tidak bisa sampai ke pernikahan?” Saya mengangguk dalam hati. Sungguh berat sekali membayangkan apabila benar suatu hari ternyata proses kami harus terhenti atas alasan apapun, sebab proses kami indah sekali, khususnya bagi saya.
“Nak.. rasa berat hati saat membayangkan seandainya diri tidak berjodoh dengan pasangan yang sedang berproses sekarang merupakan tanda bahwa niat menikahmu belum lurus untuk Allah SWT.” Subhanallah.. JLEB!!
“Ucapanmu mengenai niatan menikah karena Allah, demi ibadah yang lebih lengkap, pengutuhan keimanan, dll.. mudah sekali diuji kebenarannya dengan cara demikian tadi. Bayangkan bila seandainya tidak berjodoh. Ucapanmu diuji melalui rasa hatimu yang jelas tidak bisa berdusta.”
Seketika itu diri ini diliputi muhasabbah yang sangat dalam. Pernyataan ustadz tersebut berputar-putar di kepala. Saya menunduk. Benar, sangat benar. Rasa hati yang berat itu merupakan bukti nyata bahwa niatan menikah saya belumlah lurus karena Allah. Ustadz tersenyum. Tampak dari wajahnya, beliau sangat memahami jawaban dalam hati kami. Beliau kemudian melanjutkan, “Sebetulnya, bila niatan menikahnya benar-benar lurus, rasa berat hati apabila ternyata tidak bisa bersatu dalam pernikahan itu tidak akan ada. Hati yang lapang menerima dengan ikhlas atas apapun ketentuan-Nya bisa dengan mudah dimiliki apabila diri sudah sangat yakin bahwa apapun yang terjadi di muka bumi ini, sebenarnya merupakan ketentuan baik dari Allah. Lagipula, bila benar ternyata tidak berjodoh, berarti Allah sedang siapkan yang benar-benar terbaik menurut-Nya. Apa yang harus disedihkan?”
Saya menenggelamkan diri dalam muhasabbah yang lebih dalam lagi. Saya mengangguk lebih kencang dalam hati. Iya benar, itu benar, sangat benar. Ustadz melanjutkan kembali, “Jadi untuk menggapai pernikahan yang barakah, pertama-tama.. luruskan dulu niat menikahmu, sebab itu yang sebetulnya cukup sulit. Bila niatan sudah lurus, selebihnya insyaAllah akan dimudahkan.”
Ustadz menyampaikan kalimat demi kalimat dengan penuh ketenangan dan diwarnai senyuman yang sangat bijaksana. Sungguh, hari itu merupakan pembelajaran luar biasa. Yang awalnya mengharapkan nasihat langkah demi langkah menuju pernikahan barakah, justru dihadiahi nasihat yang sangat mendasar dan menjadi pondasi kokoh diri sebelum melangsungkan proses pernikahan.
Perjumpaan kami hari itu ditutup dengan sebuah pemaparan indah dari ustadz. “Nak.. tidak ada masalah sama sekali dengan hasil akhir yang tidak sesuai dengan harapan sekalipun, apabila dalam prosesnya kalian sama-sama menjalaninya penuh ketaatan kepada Allah disertai dengan niat yang lurus. Dan sekali lagi, niat yang lurus bisa diukur dengan bertanya pada diri sendiri perihal ikhlas atau beratkah bila ternyata tidak saling berjodoh. Yakinlah Allah pasti berikan keputusan yang terbaik bagi hamba-Nya. Jadi sebetulnya tak ada alasan bagi kita berberat hati terhadap apapun yang tak sesuai dengan harapan. Saya doakan, semoga niat lurus selalu bersemayam dalam hati kalian. Dan bila belum lurus, maka berlatihlah terus.”
Subhanallah.. sebuah perjumpaan yang sangat bermakna. Sejak saat itu, setiap hari saya melatih diri meluruskan niat saya menikah. Setiap ada sedikit  perasaan yang beranjak semakin dalam pada calon pasangan, seketika saya menarik diri dan meluruskan niat saya kembali, hanya untuk Allah, dan karena Allah. Hari demi hari saya berulang kali memaksakan diri meluruskan niat menikah yang sejujurnya tidak mudah, hingga akhirnya saya menemukan diri saya terbiasa dengan niatan menikah yang lurus, insyaAllah.
Alhamdulillah, sebuah pertemuan singkat dengan ustadz tersebut mampu mengkokohkan pondasi utama proses menikah, yaitu dalam hal pelurusan niat menikah.  Hingga akhirnya saya menyadari, tidak ada kekhawatiran sedikitpun aapabila ternyata jodoh saya bukanlah dia yang sedang berproses dengan saya. Cukuplah saya menjalankan prosesnya sesuai dengan yang Allah suka, dan hasilnya biar Allah yang tentukan, suka-suka Allah saja. Tapi bukan berarti saya tidak serius menjalankannya. Saya hanya berpegang teguh bahwa apapun yang jadi ketentuan Allah, pastilah yang terbaik. Menikah kapanpun pada waktu terbaik-Nya, dengan siapapun pilihan terbaik-Nya. Alhamdulillah, ringan sekali rasanya menjalani kehidupan dimana segala sesuatu hal digantungkan harapannya hanya kepada Allah dan hanya untuk Allah. Sebuah anugerah yang tidak semua orang bisa miliki bila ia tidak yakin kepada-Nya. Terimakasih ya Rabb, I love You more :)
http://febriantialmeera.wordpress.com/2012/11/25/luruskan-niat-menikahmu/ 

Sabtu, 31 Agustus 2013

GRATISAN apa BAYAR???

Akhir-akhir ini sering banget baca statusnya temen-temen yang lagi suibbukkk poll sama yang namanya skripsi, karya tulis ilmiah, dan seputar tentang tugas akhir kuliahnya. mulai dari yang santai sampai yang ngerasa lelah meskipun sudah hampir di ujung perjuangan.

ini hanya satu diantara berbagai cerita. Panggilah dia fulanah, muslimah yang kebetulan yang sudah pernah kenal sebelumnya, hanya saja sekarang sudah jarang berjumpa. kebetulan fulanan sedang sibuk mengerjakan skripsinya. singkat cerita, dada masalah dengan skripsinya, ya... masalahnya pada instrumen yang digunakan. entahlah detailnya seperti apa, karena instrumennya inilah yang menyebabkan pembimbingnya belum menyetujui untuk segera sidang, sedangkan yudisium sudah melambai-lambai di depan mata.

Bagi mereka yg dikejar dengan skripsi akan memunculkan pertanyaan pada diri sendiri "Nutut Nggak?". iya, cukup tidak waktunya untuk mengejar kelulusan dengan waktu yang telah ditentukan. berhari-hari dengan keyakinan, dan meskipun masih ada rasa kemustahilan, si fulanah berangkat ke kampus dengan harapan besar "ACC". saya pikir siapa yang tdk mengharapkan segera disetujui untuk segera menyelesaikan sidang ini. berbekal doa yang terus dipanjatkan, harapan kelulusan didepan mata yang tidak pernah padam, semangat yang masih berkobar meskipun terkadang akan padam karena ikhtiar tak kunjung membuahkan hasil yang diimpikan.

"Ngemper" mengutip bahasa kawan-kawan di kampus dulu, begitulah kiranya, menunggu dosen yang tak kunjung menerimanya dari pagi sampai sore hari menjelang maghrib tiba terkadang dengan rasa lapar yang tak terkira. esoknya lagi pun tetap dicoba, mencari sang pembimbing yang dicinta, terkadang revisipun bejibun jumlahnya, tak jarang malaspun menghinggapinya. Tapii... tidak, dia tak pernah mau menyisakan malas, apalagi tak mau menyapa skripsinya. Ada janji pada orang tuanya yang harus tertunaikan, begitu pula janjinya pada Allah yang telah memilihkan jurusan ini kepadanya hingga dia bisa berdiri hampir dipenghujungnya.

Dan kini hampir selangkah lagi, setelah penelitian dilakukan, instumennya bermasalah. kenapa tidak kemarin saat mengajukan proposal saja, ah entahlah saya tdk begitu tahu apa sebabnya. dalam sujud2 panjangnya, doa yg tak pernah luput dari lafadznya, tetap saja maju, melaju... mencari titik terang yang seolah hampir mustahil karena yudisium tinggal beberapa hari lagi. dan hingga suatu hari setelah penantian panjangnya, sang pembimbing yang dicintapun mengeluarkan kata sakti itu, menyetujui untuk sidang keesokan harinya. ah entahlah, inilah sekenario Allah yang luar biasa. sungguhlah benar bila Allah mengulangnya dalam Al Quran
"Inna ma'al 'usry yusro" (Al Insyiroh: 6).
BERSAMA KESULITAN ADA KEMUDAHAN.
Setelah melalui proses yang panjang, ikhtiar yang tiada henti, doa yg terus dipanjatkan, dengan ketawakalan yang luar biasa. akhirnya si fulanah pun kini telah bergelar sarjana, lulus tepat waktu tanpa harus menambah episode panjang di kampusnya. sungguh tidak ada sebuah kesuksesan yang gratisan. selalu ada yang harus dibayar, dengan ikhtiar tanpa putus asa, terus melaju dengan keyakinan, meskipun sampai lelah tubuh mengejar, meskipun air mata sampai kering, berlama2 memohon doa padaNya. meskipun bukan bentuk materi/uang, walaupun banyak pula yang harus mengeluarkan dana untuk mencapainya (yang jelas bukan dg jalan yg salah.

Tidak ada peperangan yang berakhir dengan kemenangan dengan menunggu datang dari langit bak kejatuhan durian. Al Fatih tak hanya menunggu untuk membebaskan Konstantinopelnya, Shalahudin Al Ayubi tak hanya duduk-duduk santai membebaskan Palestina. Jika semua orang tidak membayar harga untuk meraih kemenangan, mereka akan membayarnya dengan kekalahan.

Dan kalian yang mengaku pemuda masa depan bangsa, kesuksesanmu tak akan datang tiba-tiba jika hidupmu hanya bersantai-santai ria. bergegaslah, meskipun sulit melaluinya, meskipun harus berjalan dalam terjalnya bebatuan, diiringi jurang-jurang curam, seakan kemudahan atau keberhasilan adalah suatu kemustahilan. tetaplah berjalan, tetaplah tatap masa depan. jangan hentikan ikhtiar, apalagi doa senjata kaum beriman. karena sungguh tiap-tiap keberhasilan itu tak pernah mudah, karena sungguh
tiap-tiap KEMENANGAN itu ada HARGA yang HARUS DIBAYAR.

*) sekaligus teguran untuk diri sendiri

Blitar, Penghujung Agustus 2013
Pejuang Syahidah

Imajinasi dan Kreativitas

Alkisah lagi diem-diem nyantai di rumah sore-sore tanpa sengaja dengerin anak-anak kecil yang lagi main habis pulang ngaji di masjid dekat rumah di gang sebelah. kebanyakan masih usia-usia pra sekolah

A: Ayo kita main di rumah situ (sambil nunjuk rumah yg punya halaman luas, yang ditinggal pemiliknya agak lama)
B: Ayo mas, tapi di situ apa ada orangnya? kosong ta mas?
A: iya kosong tapi gak papa kok, ayo main di situ, gak papa seru kok
B: sepi mas, serem. takut aku mas, katanya itu ada penunggunya kalo kosong
A: ndak kok, ndak serem, disitu banyak binatangnya lho
B: lho iya ta mas? ada apa aja mas di sana?
A: ada singanya, ada jerapah juga, aku udah pernah masuk ke sana kok, ayo ke sana (wajah seriusssss)
B: ada jerapahnya? ada lumba-lumbanya juga mas?
A: ada, ada buanyak kok binatang di sana
B: ayo deh...

senyum-senyum sendiri mendengar percakapan mereka. sejak kapan ya, rumah isinya singa, jerapah, lumba-lumba beserta bala tentaranya. aduuuh-aduuuhhh... eh tapi jangan salah dari peristiwa sederhana itu ternyata banyak ilmunya lho, meskipun aneh kelihatannya ternyata imajinasi itu menyimpan harta karun yang berharga. mau tauuuuuuu??????? mari ke TKP :P

Ternyata pemirsa, imajinasi itu berhubungan dengan daya kreativitas anak lho. Ada banyak sekali perilaku anak yang dianggap “aneh” oleh orang dewasa, yang sebenarnya wajar karena perbedaan pola perilaku antara orang dewasa dengan anak. Kalau orang dewasa cenderung berperilaku berdasarkan apa yg diketahuinya, sedangkan ana-anak berperilaku lebih berdasarkan imajinasinya.

Terus apa hubungannya sama kreativitas? Eng Ing Eng....
Ternyataaa saudara-saudari... Anak kreatif memiliki daya khayal atau imajinasi, yang ia aplikasikan dalam kegiatannya sehari-hari. Ia menyukai imajinasi dan sering bermain peran imajinasi. seperti cerita singkat di atas, membayangkan di dalam rumah kosong itu berisi beraneka macam binatang :D
atau mungkin cerita lain ada yg pernah ke bulan, ngomong sendiri, ketemu monster dan sebagainya. ini merupakan kelumrahan dari usianya. pada usia anak-anak yang belum banyak mengenal kosa kata akan memvisualisasikan apa yang ia lihat dan pikirkan dalam bentuk gambar dalam pikiran mereka. inilah yang disebut dengan imajinasi visual, imajinasi yang berbentuk gambar-gambar dalam mata pikiran manusia dan diproses oleh otak kanan.




“Anak-anak adalah makhluk yang terbiasa berpikir dengan menggunakan imaji. Mereka melakukan hal tersebut jauh sebelum mereka memiliki kemampuan bahasa” (I.Robertson,2009:20). 
Bersamaan dengan bertambahnya usia maka perkembangan imajinasinya pun berubah. pada orang dewasa imajinasinya berupa verbal, imajinasi yang terbentuk oleh kata-kata dalam pikiran manusia dan diproses di dalam otak kiri.. Orang dewasa yang telah mengetahui banyak kosa kata cenderung lebih menggunakan kata-kata dalam berimajinasi, sehingga banyak orang dewasa yang justru mengalami ketumpulan dalam berimajinasi dengan gambar. Namun tak sedikit pula yang imajinasi visualnya tetap tajam dan berkembang baik. Remaja misalnya imajinasinya berupa fiksi ilmiah, mereka sudah cukup mampu mengembangkan imajinasinya dalam bentuk-bentuk keilmuan, seperti menulis cerpen atau naskah drama, menciptakan lirik lagu, bermusik dengan genre tertentu, dan lain-lain.

Berawal dari daya imajinasi inilah kelak nantinya membantu si kecil untuk semakin kreatif menyelesaikan masalah, berkhayal untuk menghasilkan sesuatu yang berdaya guna tinggi. dari imajinasi inilah akan memunculkan ide-ide kreatif yang mungkin selama ini hanya terpendam dalam tanpa ada upaya lebih lanjut untuk menggalinya.

“Untuk mengajukan berbagai pertanyaan baru, kemungkinan baru, untuk menilai masalah lama dari sudut pandang baru, dibutuhkan daya khayal kreatif. Daya khayal kreatif menjadikan ilmu pengetahuan maju pesat.” (Albert Einstein)

Jadi bersyukurlah mereka bila si kecil sudah menunjukkan daya imajinasinya yang lucu, karena kelak dia akan menjadi cendekiawan yang luar biasa. dan buat anda yang sudah dewasa pun, bersyukurlah bila memiliki daya imajinasi, karena dengan begitu anda akan memunculkan ide2 seru yang beribu2 manfaat dalam kehidupan anda, dan kita semua.



Sabtu, 08 Juni 2013

Seputar Sya'ban (Ust. Salim Afillah)

Sya'ban adalah bulan ke-8 dalam Hijriah, terletak antara 2 bulan yang dimuliakan yakni Rajab & Ramadhan. Tentangnya RasuluLlah SAW bersabda: “Sya'ban; bulan yang sering dilalaikan insan; antara Rajab & Ramadhan. Sya'ban adalah bulan di mana amal-amal diangkat kepada Rabb Semesta Alam; maka aku suka jika amalku diangkat, sedang aku dalam keadaan puasa. (HR. Ahmad dan Nasa'i, dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, 1898).

Karena itu, berdasar riwayat shahih disebutkan bahwa RasuluLlah SAW berpuasa pada sebagian besar hari di bulan Sya'ban. 'Aisyah RA berkata: "Tak kulihat RasuluLlah SAW menyempurnakan puasanya dalam sebulan penuh, selain di bulan Ramadan. Dan tidak aku lihat bulan yang beliau paling banyak berpuasa di dalamnya selain bulan Sya'ban. (HR Al Bukhari & Muslim). Dalam Shahih Al Bukhari (1970) ada tambahan dari 'Aisyah: "Tidak ada bulan yang Nabi SAW lebih banyak berpuasa di dalamnya. selain bulan Sya’ban. Sesungguhnya beliau berpuasa pada bulan Sya'ban seluruhnya”. Maksud hadits itu adalah, beliau berpuasa pada sebagian besar hari-hari bulan Sya'ban, sebagaimana banyak riwayat lain yang menyatakan demikian. Dalam ungkapan bahasa Arab, seseorang bisa mengatakan 'berpuasa sebulan penuh' padahal yang dimaksud adalah berpuasa pada sebagian besar hari di bulan itu. Demikian keterangan Ibnu Hajar Al 'Asqalany dalam Fathul Bari, 4/213.


Maka berpuasa di bulan Sya'ban adalah utama, karena:
•    'Amal-'amal manusia (secara tahunan) sedang diangkat ke hadapan Allah SWT.
•    Sya'ban ialah bulan yang disepelekan; beramal dan menghidupkan syi'ar di saat manusia lain lalai memiliki keutamaan tersendiri.
•    Penyambutan dan pengagungan terhadap datangnya bulan Ramadan. Karena ibadah-ibadah yang mulia, umumnya didahului oleh pembuka yang mengawalinya; Haji diawali persiapan Ihram di Miqat, Shalat juga diawali dengan bersuci, berwudhu', dan persiapan-persiapan lainnya yang dimasukkan dalam syarat-syarat shalat.
•    Hikmah lainnya, puasa di bulan Sya'ban akan membuat tubuh mulai terbiasa untuk melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan dengan optimal. Sebab sering di awal Ramadhan banyak daya dan waktu habis untuk penyesuaian diri; padahal tiap detik bulan mulia sangat berharga. Imam An Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim mencantumkan pendapat: Puasa Sya'ban seumpama sunnah Rawatib (pengiring) bagi puasa Ramadhan. Untuk shalat; ada rawatib qabliyah & ba'diyah. Untuk Ramadhan, qabliyahnya; puasa Sya'ban & ba'diyahnya; puasa 6 hari di bulan Syawal. Keutamaan Sya'ban bisa kita lihat di: Tahdzib Sunan Abu Dawud, 1/494, Latha'iful Ma'arif, 1/244.

Nah, bagaimana tentang Nishfu Sya'ban? Hadits-hadits terkait Nishfu Sya'ban ini sebagian dikategorikan dha'if (lemah), bahkan sebagian lagi dikategorikan maudhu' (palsu). Khususnya hadits yang mengkhususkan ibadah tertentu atau yang menjanjikan jumlah dan bilangan pahala atau balasan tertentu. Tetapi, ada sebuah hadits yang berisi keutamaan malam Nisfhu Sya'ban yang bersifat umum, tanpa mengkhususkan ibadah-ibadah tertentu.
"Sesungguhnya Allah memeriksa pada setiap malam Nisfhu Sya'ban. Lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya, kecuali yang berbuat syirik atau yang bertengkar dengan saudaranya." (HR Ibnu Majah (1390)). Dalam Zawa'id-nya, riwayat ini dinyatakan dha'if karena adanya perawi yang dianggap lemah. TETAPI, Ath Thabrani juga meriwayatkannya dari Mu'adz ibn Jabal dalam Mu'jamul Kabir Ibnu Hibban juga mencantumkan hadits ini dalam Shahihnya (5665), begitu pula Imam Ahmad mencantumkan dalam Musnadnya (6642). Al-Arna'uth dalam ta'liqnya pada dua kitab terakhir berkata, "Shahih dengan syawahid (riwayat-riwayat semakna yang mendukung)”. Al-Albani juga menilai hadits Nishfu Sya'ban ini shahih {Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah (1144), Shahih Targhib wa Tarhib (1026)} Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Adapun malam Nishfu Sya'ban, di dalamnya terdapat keutamaan." (Mukhtashar Fatawa Mishriyah, 291).

Karena itu, ada sebagian ulama salaf dari kalangan tabi'in di negeri Syam, seperti Khalid bin Ma'dan & Luqman bin Amir. yang menghidupkan malam ini dengan berkumpul di masjid-masjid untuk melakukan ibadah tertentu pada malam Nishfu. Dari merekalah kaum muslimin mengambil kebiasaan itu. Imam Ishaq ibn Rahawayh menegaskannya dengan berkata, "Ini bukan bid'ah! 'Ulama Syam lain, di antaranya Al-Auza'i, tidak menyukai perbuatan berkumpul di masjid untuk shalat dan berdoa bersama di Nishfu Sya'ban. Tetapi beliau -dan 'ulama yang lain- menyetujui keutamaan shalat, baca al-Quran dll pada Nishfu Sya'ban jika dilakukan sendiri-sendiri. Pendapat ini yang dikuatkan Ibn Rajab Al-Hanbali (Latha'iful Ma'arif, 151) dan Ibn Taimiyah (Mukhtashar Fatawa Al Mishriyah, 292). Adapun 'ulama Hijaz seperti Atha', Ibnu Abi Mulaikah, dan para pengikut Imam Malik menganggap hal terkait Nishfu Sya'ban sebagai bid'ah. Tapi kata mereka; qiyamullail sebagaimana tersunnah pada malam lain dan puasa di siangnya sebab termasuk Ayyamul Bidh ialah baik. Demikian agar perbedaan pendapat ini difahami dan tak menghalangi kita untuk melaksanakan segala 'amal ibadah utama pada bulan Sya'ban.

Bulan Sya’ban adalah juga kesempatan tuk meng-qadha' hutang puasa Ramadhan kemarin sebelum datangnya Ramadhan berikut. 'Aisyah berkata: “Aku punya hutang puasa Ramadan, aku tak dapat mengqadhanya kecuali di bulan Sya’ban, karena sibuk melayani Nabi SAW. (HR Al Bukhari-Muslim) Imam An Nawawi (Syarh Shahih Muslim, 8/21) dan Ibn Hajar (Fathul Bari, 4/189) menjelaskan; dari hadits 'Aisyah ini disimpulkan: Jika ada 'udzur, maka qadha' puasa bisa diakhirkan sampai bulan Sya’ban. Tanpa 'udzur, menyegerakannya di bulan Syawal dst lebih utama. Bagaimana jika lalai; tanpa 'udzur, hutang puasa belum terbayar, tapi Ramadhan baru telah datang? Jumhur 'ulama berpendapat: Dia harus beristighfar atas kelalaiannya pada kewajiban itu dan harus bertekad untuk segera meng-qadha'-nya setelah Ramadhan ini. Menurut mereka, tiada kewajiban khusus selain hal itu. Tetapi sebagian 'ulama berpendapat agar si lalai menambahkan 1 hal lagi. Yakni mengeluarkan 1/2 Sha' makanan pokok (lk 1,5 kg) untuk tiap hari yang terlalai belum dibayar hutang puasanya tahun ini. Ini sebagai pengingat atas kelalaiannya dan dia harus tetap mengganti puasa yang terlalai diganti tahun ini pada tahun depannya. Ini berdasar ijtihad beberapa sahabat Nabi SAW. Tak ada nash khususnya, tetapi ijtihad ini dianggap baik. (Fathul Bari, 4/189)

Jika masuk bulan Sya’ban, hendaknya kita saling mengingatkan (juga terutama pada kaum wanita) yang punya hutang puasa agar ditunaikan. Sehari atau 2 hari terakhir Sya’ban dinamakan sebagai Yaumusy-Syakk (hari keraguan), sebab ketidakjelasan sudah masuk Ramadhan/belum. Nabi saw bersabda: "Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya. Kecuali seseorang yang (memang seharusnya/biasanya) melakukan puasanya pada hari itu. Maka hendaklah ia berpuasa." {HR Al Bukhari & Muslim} Maknanya; terlarang untuk mengkhususkan diri berpuasa pada Yaumusy Syakk. Tetapi boleh bagi yang HARUS (nadzar, qadha', dll) dan boleh juga yang BIASA (karena puasa Dawud, bertepatan Senin/Kamis, dll). Hikmah pelarangan itu sekedar sebagai pemisah antara puasa Ramadhan yang fardhu dengan puasa sebelum/sesudahnya yang sunnah. (Syarh Muslim 7/194, Latha'iful Ma'arif 151)